[RESENSI] SATU DARI SERIBU, AKU MAU KAMU
Judul Buku : Petjah
Penulis : Oda Sekar Ayu
Penerbit : Elex Media Komputindo
Terbit : 2017
Tebal : 314 halaman
Cover : Softcover
ISBN : 978-602-02-9595-4
"Satu
dari seribu, aku mau kamu," adalah puisi hati Nadhira untuk cinta
pertamanya.
"Satu
dari seribu, memang harus kamu," adalah sepenggal puisi harapan Biru untuk
masa depannya.
Semesta
mempermainkan Nadhira dan membuat hidupnya Petjah.
***
Novel Petjah adalah satu dari
ribuan novel yang memiliki ciri khasnya sendiri. Mengambil kisah kehidupan anak-anak
akselerasi, dan betapa rumitnya cara dan pandangan mereka dalam mengutipkan
maupun memikirkan sesuatu dengan analogi dari berbagai mata pelajaran;
matematika, fisika, biologi, kimia yang tergolong kategori cerdas. Aku sangat
suka dengan analogi-analogi cerdasnya! Thakns to Kak Oda, karenanya aku
berkali-kali membaca novel ini dan tidak pernah bosan, malah makin jatuh cinta sama
semuanyaaaa; karakternya, diksinya, puisinya, alurnya, dan jadi kompleks menuju
penyelesaian yang menakjubkan! Bintang lima dah!
Baiklah mari dilanjutkan resensi
novel secara spoiler, eh, engga deng becanda!
Petjah bercerita tentang
Nadhira Amira, Dimas Baron dan Ambrious Biru, tiga murid SMA di sebuah sekolah
ternama. Nadhira dan Dimas berada dalam satu kelas yang sama yaitu kelas
akselerasi. Sedangkan, Biru adalah siswa kelas tiga jalur reguler di sekolah
tersebut. Biru mendapat julukan King of the King di sekolahan karena
hobinya tawuran sehingga membuat semua siswa tingkat satu dan dua takut padanya.
Cerita dibuka dengan kebencian Nadhira
Amira pada Dimas Baron yang selalu menyabet juara nasional tingkat SMP,
sehingga menjadi saingan berat sekolahnya. Ketika masuk SMA, Nadhira begitu
bahagia melihat hasil ujian tes masuk SMA di madding yang mencantumkan namanya berada
satu peringkat di atas Dimas. Tanpa disadarinya, Dimas mengetahui hal tersebut
dari kakaknya, sehingga Dimas sangat membenci Nadhira. Namun, setahun bersama
Dimas dalam satu kelas yang sama membuatnya tahu bahwa Dimas tidak seperti apa
yang ia pikirkan, malah ia semakin menyukai Dimas! Begitu pula sebaliknya, Dimas juga menyadari bahwa kebenciannya pada Nadhira
tidak beralasan. Hingga ada suatu peristiwa yang membuat hubungan keduanya
menjadi lebih dekat. Karena rasa sukanya, Nadhira meluapkannya dengan satu
permohonan yang kemudian direstui oleh semesta.
Kemudian Nadhira berkenalan
dengan dengan Biru. Pertemuan pertama mereka adalah ketika Nadira kehujanan dan
Biru memayungi payung biru kepadanya. Pertemuan yang selanjutnya juga terjadi
di kala hujan turun padahal saat itu bulan Juli (belum memasuki musim penghujan).
Setiap kali Nadhira berada dalam kondisi kehujanan, Biru selalu muncul di sana
bersama payung birunya. Lambat laun hubungan keduanya pun mulai terjalin. Saat
itu, mereka belum menyadari bahwa semesta mempertemukan keduanya untuk kemudian
kembali membuka luka lama yang masih menghantui hingga kini.
***
Beginilah penampakan quotes-quotes
Einstein ala Nadhira-Dimas yang analoginya asik, cerdas, mantul pake banget:
“Erlang itu, Ru …
semacam nilai tangen sudut 90 derajat … nggak terdefinisikan, Ru. Erlang adalah
alasan aku masih bernafas sampai sekarang.” (Nadhira, Hal. 126)
“Abis lo kayak larutan
buffer, Dim. Lo mempertahankan harga pH, mempertahankan tingkat kesenangan
dalam hidup gue.” (Nadhira, Hal. 137)
“Dalam rangkaian
push-pull itu dua transistor bekerja sama, saling menguatkan waktu yang satunya
lemah. Jadi sumber kekuatan saat yang satunya nggak kuat.” (Dimas, Hal. 180)
“Psst … nggak ada
proses merelakan yang mudah, Nadhi. Bahkan nggak semua atom bisa melepaskan
elektronnya semudah itu. Mereka tetap membutuhkan gaya, kan?” (Dimas, Hal.
165)
“Kayaknya sih volume rongga
mulut gue nggak cukup juga, plus enzim ptyalin di mulut gue kayaknya nggak akan
bisa memecah komponen karbonit dari kertas yang lo akan sumpelin itu.” (Nadhira,
Hal. 212)
“Lo merasa diri lo
kayak gravitasi Nadh. Seakan semua orang di tarik oleh lo dan berpusat
mengelilingi lo.” (Dimas, Hal. 216)
“Tujuan hidup itu
justru sesuatu yang real. Ibarat katrol, bebannya itu lo, tali katrolnya adalah
kehidupan lo, dan gaya yang menggerakkan katrol itu, ya, tujuan hidup lo.
Makanya kalau nggak ada tujuan hidup, ya, hidup lo stagnan. Kalau mau hidup,
ya, harus punya tujuan meskipun tujuannya sekadar buat bertahan sampai hari
besok.” (Dimas, Hlm. 295)
Bonus satu puisi berjudul Petjah, yang selaras sama judul novelnya:
Bonus satu puisi berjudul Petjah, yang selaras sama judul novelnya:



Komentar
Posting Komentar