[Resensi] Tekad Kuat Menggapai Juara di Olimpiade Astronomi

Judul Buku    : Starlight
Penulis            : Dya Ragil
Penerbit          : Gramedia Pustaka Utama
Terbit             : April, 2016
Tebal              : 264 halaman
Cover              : Softcover
ISBN               : 978-602-03-2753-2
Peresensi        : Mega Widyawati

Aku memutuskan membeli novel ini, karena temanya mengangkat tentang pelajaran astronomi. Aku suka apa pun yang bersangkutan dengan benda-benda langit, terutama tentang bintang. Jadilah, buku ini sudah ada di tanganku sekarang, sudah ku baca pula, berkali-kali. Ayo bagi yang belum membacanya, Aku ingin mengajak kalian untuk berfantasi mengenal lebih lanjut novel Starlight ini.

Selain tema—Astronomi—yang dijadikan fokus oleh penulis, aku juga suka covernya yang  elegan, berwarna hitam dan gelapnya malam berbintang, sangat mendukung keseluruhan isi novel.

Judul novel pun sangat simple dan menarik. Starlight. Bila diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, Star berarti bintang, sedangkan Light itu cahaya. Jika disatukan dapat diartikan menjadi Cahaya Bintang. Secara definisi, bintang adalah banda langit yang dapat memancarkan cahayanya sendiri. Tidak heran, bintang secara teori dikategorikan sebagai benda langit yang mampu berkelap-kelip atas energi miliknya sendiri untuk bersinar di langit. Walaupun bintang dapat sewaktu-waktu meredup, akibat sisa-sisa energinya yang terus dipergunakan bercahaya akan terbakar sampai hangus hingga lenyap. Sedangkan cahaya adalah energi berupa gelombang elektromagnetik yang kasat mata—maksudnya dapat dilihat dengan mata telanjang tanpa bantuan alat optik. Salah satu benda berkecepatan paling maksimum dari kecepatan apa pun yang ada di dalam tata surya, dimiliki oleh kecepatan cahaya—299.792.458 meter per detik atau kira-kira 3,00 x 10 8 m/s karena panjang meter didefinisikan berdasarkan konstanta.

By the way, aku tidak akan membuat resensi yang spoiler disini, tetapi langsung pada intinya saja karena aku paling suka bikin orang penasaran hehe. Penasaran itu tidah enak sekali. Jadi, kalau kalian dikasih dua pilihan, kalian bakal pilih menuntaskan rasa penasaran itu atau tidak hmm?

Novel ini termasuk dalam kategori teenlit-nya GPU. Gaya bahasanya tentu bakal remaja banget, mengingat target pembaca adalah remaja. Namun, menurutku novel ini boleh dibaca oleh semua kalangan. Mulai dari remaja bahkan sampai orang dewasa tidak masalah selagi mereka memahami isi dan gaya bahasanya.

Tokoh utamanya bernama Wulan. Ia seorang anak SMA dengan kadar kepintaran rata-rata, bisa dikatakan dulunya ia sangat bodoh, tetapi berkat usahanya yang rajin belajar, ia mampu mengatasi kelemahannya tersebut. Kalau kata mutiaranya sih, usaha tidak mengkhianati hasil, begitulah. Wulan ingin menjadi Big Bang. Dalam dunia astronomi, Big Bang merupakan teori terbentuknya alam semesta dengan ditandai terjadinya sebuah ledakan besar. Alam semesta yang dahulunya hanya satu wujud, berkat ledakan itu, kemudian terpisah-pisah menjadi beberapa material yang menjadi bakal terbentuknya benda-benda langit. Wulan pikir ia pun bisa menjadi seperti itu.“Yang awalnya nol besar pun bisa meledak jadi hebat kalau mau usaha.”—halaman 11.

Meskipun keberadaan Wulan menjadi sorot utamanya. Walau begitu, ada empat tokoh-tokoh lain yang menjadi peran penting dalam membentuk cerita yang oke, diantaranya; Lintang, Nindi, Teguh, dan Bagas. Aku menemukan mereka semua di salah satu kelompok belajar yang dibentuk secara acak di kelas XI IPA 2. Mereka berlima mempunyai kepribadian yang berbeda-beda. Ku pikir di situlah letak novel ini terlihat, Wow. Yang membuatku terus membuka halaman selanjutnya sangking serunya. “Tiga besar jadi satu, ditambah troble maker, dan satu penggembira. Kalau ini piala dunia, kita berlima baru saja masuk grup neraka.”—halaman 19

Mereka bukan sekedar sebuah kelompok belajar biasa. Terlebih lagi diantara mereka berlima terdapat salah keduanya mempunyai masalah belum terselesikan di masa lalu. Aku sendiri tidak tahu dan tidak pernah menduga apa pernyebab timbulnya permasalahan tersebut. Dan setelah sampai beberapa bagian, oh ternyata itu toh alasannya.

Konflik semakin seru ketika diselenggarakannya olimpiade. Di antara semua bidang pelajaran murid SMA, bidang astronomi dipilih kelompok belajar tersebut sebagai ajang menunjukkan siapa yang lebih unggul. Tentu saja keempat dari kelimanya mendaftarkan diri mengikuti, demi berpegang teguh pada alasan yang berbeda-beda. Wulan demi mengungguli saudara kembarnya. Lintang mengikuti saran sang Ayah yang terus memaksakan kehendak. Bagas yakin dengan otak geniusnya. Nindi demi memperbaiki perekonomian keluarganya. Teguh demi dianggap ada dan tidak dikhianati lagi oleh sahabatnya. “Bakal ku sedot cahaya dari bintang-bintang yang kelewat dekat. Hati-hati, bisa jadi kamu salah satunya”—halaman 51.

Saat persiapan mengikuti olimpiade astronomi semakin ketat, ternyata hanya dua orang mampu lolos tingkat kabupaten. Persiapan menjadi siapa yang lebih unggul pun semakin bertambah. Namun, setelah semuanya berakhir, hanya ada satu orang yang berhasil menempuh ke tingkat nasional dan memang dia yang sudah aku duga dari awal. Dia genius banget sih. Siapakah diantara mereka yang lebih unggul ? “Aku pengen bawa nama sekolah ke tingkat yang lebih tinggi. Ke tingkat internasional, kalau perlu. Biar orang tahu, kalau anak dari SMA nggak terkenal pun bisa berprestasi. Biar orangtuaku tahu, kalau aku masih punya harapan meski dikucilkan”—halaman 248. Menurutku semuanya unggul kok, dengan peran, bakat, dan karakternya masing-masing. Tetapi, kadang kalanya masyarakat mengotak-kotakkan keunggulan berdasar prestasi yang telah dicapai. Betul?

Terlepas dari semua itu, novel Starlight memiliki banyak pesan moral, baik persoalan tentang arti persahabatan, kerja sama yang baik, cara memperjuangkan sebuah impian dan berusaha untuk mewujudkannya, serta bagaimana cara memaafkan dan dimaafkan.

Komentar

Postingan Populer