[Resensi] Pentingnya Saling Percaya saat Menjalin Hubungan






Judul              : Distance Blue (Aku dan Kamu Terserak dalam Jarak)
Penulis            : Agustine W.
Penerbit          : Ping_
Cetakan          : Pertama, 2016
Tebal              : 288 Halaman
ISBN               : 978-602-391-109-7
Peresensi        : Mega Widyawati



Memilihmu, haruskah merasa ragu?

Sudah pernah mendengar istilah LDR di dalam dunia nyata? Pastinya sudah. Aku pun begitu. Tapi, jikalau belum, jangan khawatir, aku akan membahasnya di novel Distance Blue ini.

Apakah yang dimaksud dengan LDR? LDR atau Long Distance Realitionship jika diartikan ke dalam bahasa Indonesia adalah hubungan jarak jauh. Sebuah hubungan antara dua orang yang dipisahkan oleh jarak dan waktu dalam jangka berbulan-bulan, bahkan tahunan. Tentunya bagi siapapun yang menjalankannya bukanlah perkara mudah. Mengingat banyaknya godaan yang datang sewaktu-waktu menerjal menjadi permasalahan utama. Di samping kendala diatas,  hubungan jarak jauh ternyata juga ada manfaatnya, yakni sebagai metode untuk menguji seberapa besar kesetiaan seseorang terhadap pasangannya.

Membaca novel ini mengajarkan pada kita, bahwa betapa pentingnya menaruh kepercayaan dan kesetiaan pada pasangan ketika menjalin hubungan. Terbatas oleh ruang dan waktu yang menjadi sorotan utamanya, tentu kita bisa menyikapai segala persoalan itu dengan menanamkan benih-benih kesabaran. Walau menuai titik berat berupa tidak bisa bertemu selalu dan terselip rasa khawatir apakah pasangan kita mampu menjaga hati itu hanya untuk kita seorang.

Rasa khawatir itulah yang menghampiri hati Elmi. Ia mengkhawatirkan hubungan cintanya bersama Dirga—sang kekasih—yang terlampau sering pergi keluar kota karena tuntutan pekerjaan. Bukannya Elmi tidak percaya terhadap Dirga, namun karena selentingan isu negatif yang hadir di liku-liku jalur asmaranya membuanya jengah. “Elmi berusaha percaya pada Dirga. Tak lupa di sertai doa dalam hati, jangan sampai Tuhan mengubah rencana menyatukan dirinya dengan Dirga.” (halaman 23) “Tapi Dirga meyakinkan aku, mereka hanya berteman dan Partner kerja Profesional. Ya, Aku tetap percaya sama Dirga” (halaman 29)

Suatu hari sebuah Elmi terlibat insiden kecil, ketika ia bersama Laras yang notabene sahabatnya, sedang makan siang di sebuah restoran Timur Tengah. Bermula dari situlah ia bertemu dan mengenal sosok lelaki Arab yang bernama Rasyad—Si Pemilik Restoran Timur Tengah tersebut. Hadirnya Rasyad di kehidupannya, membuat ia harus merasakan sesuatu yang lain di hatinya. Sesuatu yang ia sendiri sulit mendefinisikannya. Sikap rasyad yang terlampau berlebihan dan terang-terangan mendekati dirinya di berbagai kesempatan, menambah rasa kekhawatirannya dalam ujian  menjalani LDR.

Di satu sisi, Elmi merasa khawatir dengan kehadiran Rasyad juga ketidakhadiran Dirga, dan di sisi yang lain, ia tertekan atas sikap sang Mama yang terus-menerus bertanya kelanjutan hubungannya dengan Dirga. Semuanya mengganggu pikiran Elmi. Seolah beban masalah tidak cukup sampai disitu, Elmi juga terserang OCD atau Obsessive-compulsive disorder. Sebuah gangguan psikologis yang mencakup pola pikiran obsesi atau tindakan kompulsif yang dilakukan oleh seseorang secara berulang-ulang. “Sayang, cemas dan waspada itu wajar. Setiap orang pasti mengalaminya. Jangan berlebihan  memikirkan hal sepele” (halaman 86). Perhatian Rasyad kepada Elmi di saat ia membutuhkan semangat dari seseorang atas penyakit yang dideritanya, mengakibatkan perasaan Elmi terpecah belah. Akankah Elmi tetap bisa setia kepada kekasihnya, Dirga?

 Ada banyak pelajaran lain yang dapat kita petik dari novel ini. Diantaranya: saling terbuka dan jujur terhadap pasangan, memaksimalkan komunikasi satu sama lain, dan menerima pasangan kita apa adanya. “Oh iya, satu lagi. Dari mereka aku belajar namanya kesetiaan…” (halaman 250).

Komentar

Postingan Populer